Senin, 30 Desember 2013

HUJAN

Mendung seakan bersahabat dengan langit belakangan ini. Bumi hampir tak pernah tersentuh sinar mentari. Titik air yang selalu membasahi bumi yang gersang, meneduhkan sekaligus mengkhawatirkan penduduknya. Meneduhkan, karena sejatinya hujan diturunkan sebagai renungan dari Sang Khalik untuk makhluk-Nya. Mengkhawatirkan, karena hujan kerap kali membawa kemacetan sebagai kawan. Tak ada seorang pun yang merasa bebas dari ancaman pulang malam.

Termasuk aku, yang terus berkeluh kesah di bawah naungan halte bis ini. Sore hari menunggu bis di halte bukanlah ide yang baik, namun hujan ini kian memperparah perasaanku. Yang membuatku kesal, bukanlah titik-titik air yang turun dari langit itu, melainkan kendaraan-kendaraan di hadapanku, kendaraan yanhg melaju sesuka hati tanpa memikirkan keselamatan orang lain, tanpa melihat adanya genangan air yang bisa membuat "pola" baru pada bajuku,egois memang gerutuku.

Saat aku tengah bersungut-sungut meratapi nasib, mataku tertumbuk pada seseorang. Ia tersenyum dan menanyakan keadaanku. Aku baik-baik saja, kataku. Ia tersenyum lagi.

"Siapa namamu?" tanyanya.
"ani," jawabku.
"tidak suka hujan?" tukasnya gamblang.
"Ya," jawabku. 
"mengapa?bukankah hujan memberi kesejukan?aku mencintai hujan," balasnya.
"Kalau begitu, mungkin kita tidak akan cocok, karena aku membenci hujan," ujarku terus terang.
Aku tertawa melihat ekspresinya. Di antara tawa, aku berujar getir, "Hujan mengambil pamanku setahun lalu." Ekspresinya berubah, agak berduka.

"Maaf...kecelakaan?" tanyanya. Aku mengangguk lembut. Setelah itu, tak ada diksi di antara kami, hujan sajalah yang mewarnai percakapan kami.

Tapi, itu bukan terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengannya. Ia menyandang kamera di pundak kanannya. Dan, hari itu ketika aku bertemu dengannya, hujan kembali turun dari langit.

"Apa kau ini dewa hujan, heh? Mengapa setiap aku bertemu denganmu, selalu diiringi dengan hujan?" seruku bercanda.
Dia tertawa, kemudian berkata, "Aku lahir bersama hujan, dan kemana pun aku pergi selalu hujan, aku lelaki yang membawa hujan."
Aku tersenyum, menggodanya, "Mereka selalu bilang, orang yang lahir bersama hujan adalah orang yang pelit," kataku.

"Aku tidak!" bantahnya.
"Benarkah?" tanyaku lagi.
"Aku akan ke sana, akan kubelikan kau segelas cokelat hangat!" katanya mencari pembuktian, jarinya menunjuk ke bangunan kedai kopi ternama. Dengan geli aku mengikutinya. Saat ia menyerahkan gelas itu kepadaku, aku tergelak. Dia menatapku, bingung.

"Kau itu benar-benar seperti keponakanku saja!" seruku.
Ia menempelkan tanganku di pipinya, agak lama, hingga membuatku canggung. Aku tak bisa berkata-kata dan akhirnya aku mengalihkan pembicaraan.

"Bisnya sudah datang, aku pulang dulu," seruku. Ia kembali tersenyum,
"Menghindar?" tanyanya. Matanya berkilat nakal dan menggoda .
"Menghindar dari apa?" seruku berpura-pura polos.
"Dari ini...." ia menggantung kalimatnya,lalu menatapku dalam.
Tanpa kusadari pipiku memerah, dan saat itu juga, tangannya bergerak mencubit pipiku. Kini ganti aku yang cemberut, ia tertawa.
     "Sudah, pulang sana, nanti terlalu malam sampai rumah," katanya lagi.
 "baiklah, terimakasih" seruku seraya menjulurkan lidah dan bergegas pergi dari kafe itu. Sempat kutangkap langkah kakinya dan senyum khasnya dari sudut mataku, sebelum aku naik bis.

Sejak saat itu, aku selalu bertemu dengannya di bawah naungan halte. Kami mengobrol tentang banyak hal, aku menemukan sisi lain dirinya yang tak pernah kutemukan sebelumnya. Dia, seseorang yang hingga saat ini belum kutahu namanya, adalah seorang pemikir yang lihai mengambil keputusan. Karakternya mantap, jika dia berkata 'Ya' terhadap sesuatu,dia akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh, tapi jika dia telah mengatakan 'Tidak' pada sesuatu, dia tidak akan pernah menyesali keputusannya itu.

Tipe cowok idealku.
Tunggu!
     Kenapa aku bilang begitu tentangnya? Aku dan dia hanya sahabat, dia adalah orang yang senang kuajak bertukar pikiran. Dia bijak, dan aku memang mengharapkan kebijakannya itu. Di samping itu, dia menghilangkan ketakutanku terhadap hujan. Dulu, sebelum keberadaannya, aku selalu mendesah saat hujan turun, teringat kenangan buruk yang mengambil nyawa pamanku dulu. Sekarang, dengan keberadaannya, aku merasa senang bila hujan turun. Karena dia ada setiap hujan turun. Dia adalah matahari pribadiku, yang menyinariku di saat mendung menutupi matahari yang lain.

Dan hari itu, aku kembali menemuinya di halte reyot itu. Ia menyampirkan Nikon andalannya dia pundak. Aku melirik kameranya itu. "Mau memotret apa?" tanyaku.

"Bintang," jawabnya gamblang. "Langit malam, tepatnya, karena aku tak mungkin memotret bintang dengan benda ini," katanya seraya menepuk-nepuk kamera andalannya. Aku tertawa, lalu menghempaskan diri ke bangku halte, duduk di sebelahnya. Ia menerawang langit.

"Mengapa kau sangat menyukai bintang? Tidakkah mereka itu ilusi? Terlihat indah dari jauh, namun hanya merupakan kumpulan debu dan gas ketika didekati?" tanyanya.

"Bagaimana denganmu? Tidakkah hujan menunjukkan kesedihan, airmata yang turun dari langit?"

Ia tersenyum. "Hujan memiliki dua sisi, sama seperti mata pedang, melambangkan kesenangan, tetapi juga melambangkan kesedihan.Tetapi, sesungguhnya, hujan diturunkan untuk menenangkan hati manusia, meneduhkan pikirannya, menghapus kenangan buruk darinya, karena setelah hujan, hadirlah pelangi. Sama seperti hidup ini, setelah ada tantangan yang rumit, tawa bahagia menanti di belakangnya," ia menutup argumen puitisnya itu.

Keheningan kembali menyelimuti. Masing-masing dari kami memikirkan argumen yang lain. Aku duduk di bangku halte dan dia mematung di bawah naungan atapnya. Waktu berdetak, dan kecipak genangan air tiba-tiba membuyarkan lamunan kami. Aku menoleh, mengamati anak-anak kecil yang bermain di genangan air. Ia menoleh pada saat yang bersamaan, mengangguk ke arahku. "Lihat itu, itulah kebahagiaan yang hadir setelah hujan, ani," serunya tersenyum, merasa menang.

Aku, yang tak ingin mengalah, berujar, "Mereka anak kecil, seorang anak kecil selalu melihat sesuatu dengan penuh kekaguman, mereka tak mengerti apa yang mereka lihat."

"Jika seorang anak kecil tak bisa bersikap dewasa, itu wajar. Yang tak wajar adalah orang dewasa yang lupa dulu dirinya pernah menjadi anak kecil," ia menerawang. Rupanya pria pecinta hujan ini juga pecinta Harry Potter.

Waktu berdetak kembali, dan diksi akhirnya memecah bendungan sungai kebisuan. "Alam mengajarkan kita begitu banyak hal," serunya, menatap ke langit sore yang kembali mendung.

"Sejatinya, Tuhanlah yang mengajarkan kita, karena jagat raya ini adalah kepunyaanNya, Dialah guru dari segala guru," balasku.

"Dan semakin banyak manusia belajar, semakin ia menyadari kebodohannya," ia tersenyum samar, seolah menyayangkan ketidakmampuan berpuisinya.

"Aku tahu," seruku singkat, mengakhiri percakapan kami.
Malam itu, ternyata adalah malam terakhir aku bersamanya. Sejak malam itu hingga seterusnya, aku tak pernah lagi melihatnya. Di halte, di bis, di kedai kopi, di mana-mana. Ia seolah menghilang bersama musim hujan. Aku terus menerus mengharapkan hujan, berharap ia muncul bersamanya. Namun, ia tak pernah muncul. Seolah menghilang bersama pudarnya musim hujan. Hujan tak sama lagi tanpanya. Dialah lelaki yang membuatku mencintai hujan.

Dan, di sinilah aku berdiri kembali dipayungi halte reyot. Titik-titik hujan kembali turun, dan memoriku tentangnya kembali bermain. Seiring dengan turunnya hujan, aku tersenyum, teringat kata-katanya padaku di tempat ini dulu. Karena aku meyakini satu hal : Meski kini dia tak lagi berada di sampingku, aku tahu, dia berada di bawah langit yang sama denganku, menatap hujan ini dengan tersenyum, sama seperti aku .



-END-



Nama     : Ani Yunita Sari
Kelas    : 3KA24
NPM      : 10111910